SAJAK DI ANTARA BELENGGU
Karya Sriuut
Perempuan muda itu tak tahu mengapa hari ini hatinya kelabu. Dipandangnya cakrawala, tampak matanya berkaca-kaca. Ada gelisah di hatinya. Sebuah kata tertahan di bibirnya yang tampak membiru menahan pedih yang dalam. Mengapa hidup tak ramah padanya? Andai dia bisa mengatur nasibnya, mungkin dia akan memilih menurut maunya. Tuhan tak tentukan dia untuk berjalan mulus di hidupnya.
Perempuan muda itu mengucap lirih sebuah nama yang memberikan warna baru dalam hidupnya. Sebuah nama yang mampu mengingatkan arti cinta yang sudah lama dilupakannya.
” Mengapa harus begini?” resahnya makin menjadi, air matanya menetes berlahan. Dia susuri lorong sepi itu, terasa sunyi sekali. Dia ingin pagi itu hujan rintik-rintik hingga tak ada seorang pun yang bertanya mengapa dia menangis. Diusapnya berlahan butiran putih yang menghias pipinya, dia harus menjadi wanita tegar hari ini hingga pelita-pelitanya tak tahu kesedihannya. Dia harus tampil menjadi sosok teladan bagi anak-anak harapannya. Dia harus tersenyum menjelma menjadi perempuan yang sempurna.
***
Ruang-ruang telah mulai dipenuh canda, lorong tak lagi sepi. Perempuan muda itu melangkah dengan pasti meski perih hatinya masih belumlah sembuh. Beberapa anak-anak menyapanya ramah dan dia tersenyum dengan tulus. memang itulah yang dilakukannya tiap hari. ”Tulus” sebuah kata yang telah mengakar di hatinya.
”Bagaimana kabar kalian? ” Perempuan muda selalu mengucapkan itu, setiap hendak mulai tugasnya. Mungkin itu pula yang selalu ingin dia ucapkan untuk pengembara yang telah memberi warna dalam hidupnya. Tapi tidak, dia tak ingin mencampur adukan kegelisahan dalam setiap tugasnya. Dia akan lupa sejenak pada pengembara bila sedang menerangkan bait-bait sajak atau saat dia berbicara tentang indahnya puisi Sapardi Djoko Damono, WS Renda dan Chairil Anwar yang penuh semangat karena itulah kesukaannya. Dia akan tersenyum jika pelitanya mampu goreskan kata-kata penuh makna di setiap lembaran putih. Duh Gusti, itulah kesukaan perempuan muda dan pengembara sangat paham akan itu.
Kapalku mengembara
Nahkodaku gelisah
Di manakah kotamu
Terlalu sulit aku tambatkan kapalku
Pelabuhanmu tertutup untukku
Namun mengapa syah bandarmu memanggilku
Karangmu begitu angkuh
Aku ingin menatapmu
Adakah mutiara masih tersembunyi dalam karang
Atau kau telah membuangnya di tengah laut?
Tidak kah kau iba melihatku
Nahkodaku telah kehilangan kendali
Kapalku masih di tengah samudra
Tidakkah kau ijinkan kapalku melabuh?
Itulah yang dia tulis dalam buku hariannya pagi itu. Dia tutup lagi dan ditinggalkan angannya di sana. Dulu adalah hari yang indah baginya, bersanding dengan lelaki yang dicintanya. Dia bangga menjadi seorang wanita dan seorang ibu bagi buah hatinya. Tanpa dimau, prahara itu datang padanya.
”Mengapa harus begini ? Mengapa harus terjadi padaku?”. Perempuan muda itu menjerit dalam hatinya. Lelaki sekaligus ayah anak-anaknya telah menghianati kesetiannya. Mengoyak dan membuat luka dihati perempuan muda. Banyak cinta yang sebenarnya dikhususkan untuk lelaki yang telah mengisi harinya. Perempuan lain tertawa di atas lukanya. Perempuan liar menoreh pilu di hatinya. Perempuan kejam telah menusuk hatinya yang penuh cinta. Perempuan yang tak tahu arti kesetiaan telah hancurkan biduk cintanya. Telah membuat seorang suami sakiti istrinya, telah membuat seorang ayah lukai anak-anaknya. Perempuan muda hanya mampu tertunduk dan jatuh di antara kepedihan.
***
Perempuan muda tersenyum lagi karena itulah yang bisa diberikan pada wajah-wajah tak berdosa, meski hatinya menjerit pada langit, pada bumi, pada alam yang tak ramah padanya. Dia tak ingin semua orang tahu cintanya telah hilang, hatinya telah kosong, nol dan hampa. Tidak, perempuan muda itu sangat hebat. Dia telah menjadi wanita sempurna dalam kerjanya. Jadi ibu untuk ratusan pelitanya. Jadi teladan bagi rekan dan saudaranya. Perempuan tegar ditengah kegundaan. Bagai air di padang tandus. Bagai hujan di musim kemarau.
Dia tak ingin biduknya hancur. Dia tak ingin sakit hatinya luluhkan mentari. Dia wanita hebat yang pemaaf. Kesetiannya telah terlukai namun tak ingin kapal dan rumahnya hancur ditikam prahara.
Perempuan muda kini bagai robot tak lagi rasakan kasih yang dalam. Raganya dia baringkan di atas dipan suaminya. Hatinya kosong. Jiwanya terluka namun raganya dia persembahkan untuk ayah dari anak-anaknya. Untuk suami yang telah mengoreskan kesedihan yang dalam. Pedih di antara kodratnya. Perih di antara takdirnya. Perempuan hebat memilih bersama karena tak tega air mata anaknya terjatuh. Perempuan muda jalani hidup sebagai istri kehilangan cinta, sebagai ibu yang terluka karena penghianatan. Perempuan hebat tak menyerah meski Perempuan lain menertawakanya.
****
Pengembara datang di tengah gelisah, menyapa perempuan muda yang kehilangan warna dalam hatinya. Dia tak tahu bagaimana awalnya? Ada sesuatu yang mengisi relung hatinya. Sesuatu yang indah, sesuatu yang telah lama hilang dalam hidupnya. Sesuatu yang membuat harinya indah dan mampu menyisihkan sebentar kegundaannya. Pengembara tuliskan kata-kata indah untuk perempuan muda yang kehilangan banyak cinta dan lupa arti kasih sayang baginya.
Lewat mana kujawab kerinduan itu?
Adakah angin berhembus
Kesana?
Tidakkah kau rasa
Bayangan ada di depanmu
Lihat dalam segala
Yang ada di depanmu
Tidakkah ia hendak berkata
Rindu jua...
Pengembara kirimkan untaian indah. Perempuan muda hatinya berbunga, bagai camar terbang di laut lepas. Hatinya yang gundah berubah warna menjadi pelangi dengan semburat warna yang indah. Kekosongannya berganti rindu. Pengembara telah mencuri hatinya. Telah mengubah kehampaan menjadi gempita . Mengapa pengembara datang padanya? Mengapa tidak dulu saja ketika perempuan muda belum mengenal cinta? Mengapa harus sekarang, di saat kodratnya telah ditetapkan untuknya?
” Aku tak tahu lagi? Prahara atau anugrah bagiku? Aku tak mampu menjawab untuk takdir atau jalan hidupku? Aku tak tahu rahasia apalagi yang harus ku lakoni?” Perempuan muda bertanya dalam kebimbangannya.
Pengembara datang membawa cinta sekaligus resah bagi perempuan muda. Perempuan muda mulai dirundung rindu, pengembara kirimkan kebimbangan di hatinya.
Perahu dan biduk pengembara tidaklah sendiri. Banyak penumpang dan banyak jiwa menyatu dalam kodratnya. Bagaimana lagi menepis cinta yang telah terlanjur menghuni sebagaian mimpi perempuan muda? Pengembara tak mampu menjawab. Perempuan muda kirimkan resah. Pengembara diam begitu lama? Tak tahu harus berkata apa? Perempuan muda kian gundah.
Perempuan muda tak bisa lari darinya? Perempuan muda menangis lagi, tak tahu mengapa cinta harus mempermainkan hidupnya? Mengapa pengembara datang dan memberikan warna di hatinya jika tak lagi bisa bersama?
” Tidakkah kau ijinkan bagiku untuk mencintaimu? Salahkah jika kutemukan kekosongan itu padamu? Kau telah membelengguku dengan kasihmu” lemah perempuan muda itu bertanya.
” Tidak, aku tak menyalahkanmu, tentu aku ijinkan dirimu untuk mencintaiku, tapi banyak hal yang tak kau mengerti?” sejenak pengembara itu terdiam.
”Bukankah telah banyak hal yang bisa kupahami?”
”Duniaku tak sama denganmu?”
”Pada bagaian mana yang tak sama menurutmu?”
”Aku dengan segala keterbatasanku?”
” Aku tak paham maumu?’ lemah kata itu terucap dari bibirnya yang membiru karena menahan pedih yang terlalu lama.
” Kau tak akan paham atau mengerti bahwa banyak jiwa pada diriku, perahuku, keyakinanku dan salibku tak sama bagimu. Kesukaanmu karena kelebihanku dan cintamu karena kekuranganku?” Pengembara itu telah membuat hati dan pikiran perempuan muda itu kian sedih
”Lalu bagaimana denganku? Terlanjur sudah kau buat gelisah dan rindu di hatiku? Mengapa kau harus datang padaku? Bahkan sajak-sajakmu telah membelengguku!”
” Kita punya jalan yang sama, kesukaan yang sama, kita bisa mengubahnya menjadi lebih berarti!”
”Maksudmu?” Perempuan muda itu semakin gelisah
” Jangan menangis, pandanglah hidupmu, songsonglah harimu, tidakkah itu lebih berarti? Mari bersamaku meraih hari ini?” Dengan tenang pengembara itu menjelaskan pada perempuan hebat yang lama kehilangan cinta.
”Kalau begitu biarlah aku pergi darimu, atau sekalian ku ucapkan selamat tinggal padamu.” Tak bisa lagi perempuan muda itu menahan butiran kristal di matanya yang sedari tadi telah ditahannya agar tak jatuh. Dia tak ingin kelihatan lemah di hadapan pengembara.
”Kenapa harus begitu? Tidakkah kau bisa tulis pada sajak yang merupakan kesukaanmu itu?” tenang saja pengembara itu berkata, tak tampak kemarahan ataupun kebencian di wajah dan matanya.
”Jangan lagi menangis.” tambahnya lagi.
”Kau tak bisa pahami, bagaimana cintaku padamu?” lemah perempuan muda itu berucap sambil diusapnya air mata yang sejak tadi dibiarkan jatuh di pipinya.
”Apakah aku harus buang ibu dari anak-anakku? Tidak! istri adalah hidupku sendiri. Itulah salibku!” suara pengembara itu tegas dan setengah tak sabar.
”Tidak. Bukan itu mauku, aku tak ingin menyakiti siapapun, aku tak minta apapun darimu! Cukuplah ijinkan aku mencintaimu? Salahkah aku temukan itu padamu? Aku pun tak akan tinggalkan kapal dan bidukku? Tak kan kubiarkan permataku hancur karena diriku! Tak ingin kutenggelamkan kapalku didasar laut? Tidak, bukan itu mauku!” isak perempuan itu kian menjadi. Pengembara terdiam, mulai paham akan mau perempuan muda itu. Tahulah pengembara, perempuan muda itu hatinya hampa, perempuan muda telah dikhianati, perempuan muda telah terluka, perempuan muda bernasib malang. Perempuan itu telah kehilangnan banyak cinta. Ketegarannya karena hidupnya sangat berarti bagi semua orang. Perempuan hebat menemukan lagi cintanya. Pengembara tersenyum. Wajahnya begitu lembut, dia tersenyum pada perempuan muda .
”Jangan menangis lagi, ini untukmu.”
Inikah kesukaanmu: maka pada suatu hari ia ingin sekali menangis sendiri
Sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu...
Ia ingin pagi itu hujan rintik-rintik dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja
Sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa?
” Mengapa engkau selalu membuatku tak bisa lari darimu? Mengapa juga kau paham akan mauku?” Perempuan muda itu tersenyum meski air matanya masih hangat terasa dipipinya. Wajahnya tak tampak sedih lagi meski tak bisa ditahannya air mata itu. Dia semakin paham maksud pengembara. Ya, Dia tak harus pergi dari pengembara. Perempuan muda telah mengubah cintanya lebih berarti. ”Carpediem” raihlah hari ini. Pengembara telah kenalkan hidup itu lebih indah dan cinta itu adalah inspirasi untuknya. Pengembara tersenyum pasti sambil dia lantunkan sajaknya.
Hujan telah turun
Menyusup tanah
harum menguap
sementara air menuju laut
tuk kembali membuat hujan
Perempuan muda tak lagi teteskan air mata. Perempuan muda temukan semuanya. Pengembara adalah semangatnya, inspirasi dan hidupnya. Tak ada yang tersakiti, tak ada yang harus terluka karena hidupnya sangat berarti. Karena harinya haruslah indah. Pengembara dan perempuan muda pun tersenyum pada esok yang membawanya pada anugrah.
****
Selasa, 05 Januari 2010
Selasa, 08 Desember 2009
Puisi Lama
JENIS-JENIS PUISI LAMA INDONESIA
1. Pantun
Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran,sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi dan bersajak ab-ab. Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi:
a) Pantun anak-anak, terbagi menjadi:
• Pantun anak-anak jenaka
Contoh:
Sungguh elok asam belimbing
Tumbuh dekat limau lunga
Sungguh elok bebibir sumbing
Walaupun marah tertawa juga
• Pantun anak kedukaan
Contoh:
Senagin lauk rang tiku
Diatur dengan duri pandan
Menangis anak duduk di depan pintu
Melihat ayah pergi berjalan
• Pantun anak teka-teki
Contoh:
Taruhlah puan diaatas pati
Benang sutra dilipat jangan
Kalau tuan bijak lestari
Binatang apa susu delapan
b) Pantun muda-mudi, terbagi menjadi:
• Pantun muda-mudi kejenakaan
Contoh:
Ya Illahi Tuhanku Robbi
Kayu yang rendah menjadi tinggi
Selama kucing tidak bergigi
Tikus tiada sopan lagi
• Pantun muda-mudi dagang
Contoh:
Seanggit paku lembayung
Gelinggang ada di bawa pundak
Menangis merengkuh dayung
Hendak pulang tak beremas lagi
• Pantun muda-mudi cinta-kasih
Contoh:
Berlayar masuk muara kedah
Patah tiang timpa kemudi
Sekuntum bunga terlalu indah
Sekalian sumbang asyik berani
• Pantun muda-mudi ejekan
Contoh:
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan memotong rotan
Tuan laksana lembu kasi
Gelak sahaya tidak melawan
c) Pantun tua, terbagi menjadi:
• Pantun tua kiasan
Contoh:
Tingkap papan kayu persegi
Riga-riga di pulau angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi bangsa karena basa
• Pantun tua nasihat
Contoh:
Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Kalau berburu kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi
• Pantun tua adat
Contoh:
Berek-berek turun ke bumi
Dari semak turun ke padi
Dari nenek turun ke mamak
Dari mamak turun ke bumi
• Pantun tua agama
Contoh:
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tak sembahyang
• Pantun tua dagang
Contoh:
Hari gelap jangan bingung
Niscaya kita cepat tidur
Jangan alpa panjatkan syukur
2. Talibun
Talibun merupakan pantun yang jumlah baris setiap baitnya lebih dari empat, jumlah baris kalimat setiap baitnya selalu berjumlah genap atau kelipatan genap (enam, delapan, dan seterusnya). Misalnya, jika dalam satu bait ada enam baris, maka tiga baris pertama adalah sampiran dan tiga baris berikutnya adalah isi.
Contoh:
Mendaki bukit tempurung
Menurun ke yanjung lalang
Membawa rotan dua lembar
Kami mendengar berita burung
Bunga larangan sudah hilang
Kumbang mana yang mengambilnya
3. Seloka atau pantun berbingkai
Seloka adalah pantun yang kalimat atau baris kedua dan keempat pada bait sebelumnya diulang kembali menjadi kalimat atau baris kesatu dan kedua pada bait berikutnya.
Contoh:
Seganda gugur di halaman
Daun melayang masuk kulah
Dengan adinda minta berkenalan
Rindunya bukan ulah-ulah
Daun melayang masuk kulah
Batang berangan di tepi paya
Rindunya bukan ulah-ulah
Jangan tuan tidak percaya
4. Gurindam atau sajak dua seuntai
Gurindam adalah puisi lama yang mengandung nasihat, bersifat mendidik yang terdiri atas dua baris setiap baitnya dan bersajak a-a. Baris pertama merupakan syarat yang menyatakan pikiran atau peristiwa, sedangkan baris kedua menyatakan keterangan atau penjelasan dari baris pertama.
Contoh:
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah dia dunia mudarat
(Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji pasal 9)
5. Syair
Syair termasuk jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait, bersajak aa-aa yang setiap baris merupakan isi.
Contoh:
Sengsara gerangan takdirnya untung
Sebagai nasib si bunga betung
Hanyut di sungai terkatung-katung
Diejekkan kera dan lutung
6. Mantera
Mantera adalah karya sastra lama yang berisikan puji-pujian terhadap sesuatu yang gaib atau dikeramatkan, seperti dewa-dewa, roh-roh, binatang-binaang, atau Tuhan. Biasanya mantera diucapkan oleh pawing atau dukun pada saat mengadakan upacara keagamaan.
Contoh:
Hai Tok Mambang Putih, Tok Mambang Hitam,
Yang diam di bulan dan matahari,
Melimpahkan sekalian alam asalnya pawing,
Menyampaikan sekalian hajatku,
Melakuakna kehendakku,
Assalamualaikum!
7. Masnawi
Masnawi adalah puisi Arab yang berisi puji-pujian tentang tingkah laku seseorang yang mulia.
Contoh:
UMAR
Umar yang paling adil dengan perinya
Nyatalah pun adil sama sendirinya
Dengan adil itu anaknya dibunuh
Inilah yang benar dan sungguh
Dengan bedah antara isi alam
Ialah yang besar pada siang malam
Lagipula yang menjauhkan segala syar
Imamullah di dalam padang mahsyar
Barang yang hak Ta’ala katakana itu
Maka katanya yang sebenarnya begitu
8. Ruba’I
Ruba’I adalah puisi Arab yang berisikan hal-hal yang berhubungan dengan nasihat-nasihat bersifat pemujaan.
Contoh:
MANUSIA
Subhanallah apa hal segala manusia
Yang tubuhnya dalam tanah jadi duli yang sia
Tanah itu kujadikan tubuhnya kemudian
Yang ada dahulu padanya terlalu mulia
9. Kit’ah
Kit’ah adalah puisi Arab yang berisikan nasihat-nasihat yang bersifat mendidik.
Contoh:
Jikalah dalam tanah pada ikhwal sekalian
Tiadakah kudapat bedakan pada antara rakyat dan sultan
Fana juga sekalian yang ada, dengarkanlah yang Allah berfirman
Kulluman’alaihi Famin, yaitu barang siapa yang di atas bumi itu lenyap
10. Nazam
Nazam adalah puisi Arab yang berisikan tentang ceruta hamba sahaya, raja, sultan, pangeran, atau bangsawan istana.
Contoh:
Bahwa bagi raja sekalian
Hendak ada menteri demikian
Yang pada suatu pekerjaan
Sempurnakanlah segala kerajaan
Menteri inilah maha tolan raja
Dan peti segenap rahasia sahaja
Karena kata raja itu katanya
Esa artinya dan dua adanya
Maka menteri yang demikianlah perinya
Ada keadaan raja dirinya
Jika rapat dapat adanya itu
Dapat peti rahasianya di situ
11. Gazal
Gazal adalah puisi Arab yang berisikan cinta kasih.
Contoh:
Kekasihku seperti nyawa pun adalah terkasih dan mulia juga
Dan nyawaku pun, mana daripada nyawa itu jauh ia juga
Jika seribu tahun lamanya pun hidup ada sia-sia juga
Hanya jika pada nyawa itu yang menghidupkan sementara nyawa manusia juga
Dan menghilangkan cinta pun itu kekasihnya yang setia juga
Kekasihku itu yang menengak hatiku dengan rahasia juga
Bukhari yang ada nyawa itu adalah berbahagia juga
1. Pantun
Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran,sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi dan bersajak ab-ab. Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi:
a) Pantun anak-anak, terbagi menjadi:
• Pantun anak-anak jenaka
Contoh:
Sungguh elok asam belimbing
Tumbuh dekat limau lunga
Sungguh elok bebibir sumbing
Walaupun marah tertawa juga
• Pantun anak kedukaan
Contoh:
Senagin lauk rang tiku
Diatur dengan duri pandan
Menangis anak duduk di depan pintu
Melihat ayah pergi berjalan
• Pantun anak teka-teki
Contoh:
Taruhlah puan diaatas pati
Benang sutra dilipat jangan
Kalau tuan bijak lestari
Binatang apa susu delapan
b) Pantun muda-mudi, terbagi menjadi:
• Pantun muda-mudi kejenakaan
Contoh:
Ya Illahi Tuhanku Robbi
Kayu yang rendah menjadi tinggi
Selama kucing tidak bergigi
Tikus tiada sopan lagi
• Pantun muda-mudi dagang
Contoh:
Seanggit paku lembayung
Gelinggang ada di bawa pundak
Menangis merengkuh dayung
Hendak pulang tak beremas lagi
• Pantun muda-mudi cinta-kasih
Contoh:
Berlayar masuk muara kedah
Patah tiang timpa kemudi
Sekuntum bunga terlalu indah
Sekalian sumbang asyik berani
• Pantun muda-mudi ejekan
Contoh:
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan memotong rotan
Tuan laksana lembu kasi
Gelak sahaya tidak melawan
c) Pantun tua, terbagi menjadi:
• Pantun tua kiasan
Contoh:
Tingkap papan kayu persegi
Riga-riga di pulau angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi bangsa karena basa
• Pantun tua nasihat
Contoh:
Berburu ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Kalau berburu kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi
• Pantun tua adat
Contoh:
Berek-berek turun ke bumi
Dari semak turun ke padi
Dari nenek turun ke mamak
Dari mamak turun ke bumi
• Pantun tua agama
Contoh:
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tak sembahyang
• Pantun tua dagang
Contoh:
Hari gelap jangan bingung
Niscaya kita cepat tidur
Jangan alpa panjatkan syukur
2. Talibun
Talibun merupakan pantun yang jumlah baris setiap baitnya lebih dari empat, jumlah baris kalimat setiap baitnya selalu berjumlah genap atau kelipatan genap (enam, delapan, dan seterusnya). Misalnya, jika dalam satu bait ada enam baris, maka tiga baris pertama adalah sampiran dan tiga baris berikutnya adalah isi.
Contoh:
Mendaki bukit tempurung
Menurun ke yanjung lalang
Membawa rotan dua lembar
Kami mendengar berita burung
Bunga larangan sudah hilang
Kumbang mana yang mengambilnya
3. Seloka atau pantun berbingkai
Seloka adalah pantun yang kalimat atau baris kedua dan keempat pada bait sebelumnya diulang kembali menjadi kalimat atau baris kesatu dan kedua pada bait berikutnya.
Contoh:
Seganda gugur di halaman
Daun melayang masuk kulah
Dengan adinda minta berkenalan
Rindunya bukan ulah-ulah
Daun melayang masuk kulah
Batang berangan di tepi paya
Rindunya bukan ulah-ulah
Jangan tuan tidak percaya
4. Gurindam atau sajak dua seuntai
Gurindam adalah puisi lama yang mengandung nasihat, bersifat mendidik yang terdiri atas dua baris setiap baitnya dan bersajak a-a. Baris pertama merupakan syarat yang menyatakan pikiran atau peristiwa, sedangkan baris kedua menyatakan keterangan atau penjelasan dari baris pertama.
Contoh:
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah dia dunia mudarat
(Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji pasal 9)
5. Syair
Syair termasuk jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait, bersajak aa-aa yang setiap baris merupakan isi.
Contoh:
Sengsara gerangan takdirnya untung
Sebagai nasib si bunga betung
Hanyut di sungai terkatung-katung
Diejekkan kera dan lutung
6. Mantera
Mantera adalah karya sastra lama yang berisikan puji-pujian terhadap sesuatu yang gaib atau dikeramatkan, seperti dewa-dewa, roh-roh, binatang-binaang, atau Tuhan. Biasanya mantera diucapkan oleh pawing atau dukun pada saat mengadakan upacara keagamaan.
Contoh:
Hai Tok Mambang Putih, Tok Mambang Hitam,
Yang diam di bulan dan matahari,
Melimpahkan sekalian alam asalnya pawing,
Menyampaikan sekalian hajatku,
Melakuakna kehendakku,
Assalamualaikum!
7. Masnawi
Masnawi adalah puisi Arab yang berisi puji-pujian tentang tingkah laku seseorang yang mulia.
Contoh:
UMAR
Umar yang paling adil dengan perinya
Nyatalah pun adil sama sendirinya
Dengan adil itu anaknya dibunuh
Inilah yang benar dan sungguh
Dengan bedah antara isi alam
Ialah yang besar pada siang malam
Lagipula yang menjauhkan segala syar
Imamullah di dalam padang mahsyar
Barang yang hak Ta’ala katakana itu
Maka katanya yang sebenarnya begitu
8. Ruba’I
Ruba’I adalah puisi Arab yang berisikan hal-hal yang berhubungan dengan nasihat-nasihat bersifat pemujaan.
Contoh:
MANUSIA
Subhanallah apa hal segala manusia
Yang tubuhnya dalam tanah jadi duli yang sia
Tanah itu kujadikan tubuhnya kemudian
Yang ada dahulu padanya terlalu mulia
9. Kit’ah
Kit’ah adalah puisi Arab yang berisikan nasihat-nasihat yang bersifat mendidik.
Contoh:
Jikalah dalam tanah pada ikhwal sekalian
Tiadakah kudapat bedakan pada antara rakyat dan sultan
Fana juga sekalian yang ada, dengarkanlah yang Allah berfirman
Kulluman’alaihi Famin, yaitu barang siapa yang di atas bumi itu lenyap
10. Nazam
Nazam adalah puisi Arab yang berisikan tentang ceruta hamba sahaya, raja, sultan, pangeran, atau bangsawan istana.
Contoh:
Bahwa bagi raja sekalian
Hendak ada menteri demikian
Yang pada suatu pekerjaan
Sempurnakanlah segala kerajaan
Menteri inilah maha tolan raja
Dan peti segenap rahasia sahaja
Karena kata raja itu katanya
Esa artinya dan dua adanya
Maka menteri yang demikianlah perinya
Ada keadaan raja dirinya
Jika rapat dapat adanya itu
Dapat peti rahasianya di situ
11. Gazal
Gazal adalah puisi Arab yang berisikan cinta kasih.
Contoh:
Kekasihku seperti nyawa pun adalah terkasih dan mulia juga
Dan nyawaku pun, mana daripada nyawa itu jauh ia juga
Jika seribu tahun lamanya pun hidup ada sia-sia juga
Hanya jika pada nyawa itu yang menghidupkan sementara nyawa manusia juga
Dan menghilangkan cinta pun itu kekasihnya yang setia juga
Kekasihku itu yang menengak hatiku dengan rahasia juga
Bukhari yang ada nyawa itu adalah berbahagia juga
Aliran-Aliran dalam Karya Sastra
1. Realisme, yaitu aliran yang melukiskan keadaan atau peristiwayang sesuai dengan kenyataannya, tidak ditambahkan atau dikurangi. Realisme mengungkapkan hal-hal yang baik atau tidak menyinggung perasaan orang lain. Sebagian karya angkatan ’45 beraliran realisme.
Contoh: Puisi berjudul Pertemuan karya Chairil Anwar
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tantang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
2. Naturalisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Bedanya dengan realisme, naturalisme memandang sesuatu dari sudut jeleknya saja.
Contohnya, roman atau cerpen karya Moetinggo Busye.
3. Neo-naturalisme, yaitu aliran yang tidak hanya menekankan sudaut yang jelek, tapi juga sudut yang baik.
Contoh: Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur Sutan Iskandar.
4. Ekspresionisme, yaitu aliran yang menekankan pada segenap perasaan atau jiwa.
Contoh: puisi berjudul Doa karya Chairil Anwar
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
5. Impresionisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu berdasarkan kesan-kesan sepintas saja, peristiwa atau suatu benda yang ditemui atau hal-hal yang penting saja.
Contoh: puisi berjudul Ngari Sianok karya Rifai Ali
Berat himpitan gunung Singgalang
Atas daratan di bawahnya
Hingga tengkah tak alang-alang
Ngarai lebar dengan dalangnya
Bumi runtuh-runtuh juga
Seperti beradab-adab yang lepas
Debumnya hirap dalam angkasa
Derumnya lenyap di sawah luas
Dua penduduk di dalam ngarai
Mencangkul ladang satu-satu
Menyabit di sawah bersorak-sorai
Ramai kerja sejak dulu
Bumi runtuh-runtuh jua
Mereka hidup bergiat terus
Seperti si Anok dengan rumahnya
Diam-diam mengalir terus
6. Determinisme, yaitu aliran yang melukiskan suatu kejadian atau peristiwa dari sudut jeleknya, bisa berupa ketidakadilan, penyelewengan, dan sebagainya. Sebagian karya angkatan ’66 beraliran determinisme.
Contoh: puisi berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
7. Surealisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu secara berlebihan dan terkadang sulit diikuti dan dipahami pembaca. Contohnya cerpen Lebih Hitam dari Hitam karya Iwan Simatupang, novel berjudul Behaia karya Toto Sudarto Bachtiar, dan sebagainya.
Contoh: puisi berjudul Pot karya Toto Sudarto Bachtiar.
Pot apa pot itu kaukah pot aku
Pot pot pot
Yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
Yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
Pot pot pot
Pot apa pot itu kaukah pot aku
8. Romantisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu secara sentimentil dan penuh perasaan. Prosa yang termasuk dalam aliran ini adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Dian Tak Kunjung Padam karya S.T. Alisyahbana, dan sebagainya
Contoh: puisi berjudul Cintaku jauh di Pulau karya Chairil Anwar.
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bukan memancar
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi tersa
Aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air tenang, angin mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata
“Tujukan perahu ke pelabuhanku saja”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku
Manisku jauh di pulau
Kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
9. Idealisme, yaitu aliran yang melukiskan hal-hal yang utuh gagasan, cita-cita, atau pendirian.
Contoh: puisi bejudul Aku karya Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorangpun kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
10. Simbolisme, yaitu aliran yang menggunakan simbol atau isyarat untuk menutupi kebenaran atau maksud sesungguhnya. Aliran ini muncul pada masa Jepang. Contohnya Drama berjudul Taufan di Atas Asia karya El Hakim.
11. Psikologisme, yaitu aliran yang menekankan pada aspek-aspek kejiwaan. Contohnya Novel berjudul Telegram karya Putu Wijaya, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan lain-lain.
12. Didaktisme, yaitu aliran yang menekankan pada aspek-aspek pendidikan. Contohnya Salah Asuhan karya Abdul Muis. Terlebih lagi pada sastra lama banyak sekali karya yang bersifat mendidik.
Contoh: Puisi berjudul Pertemuan karya Chairil Anwar
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tantang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
2. Naturalisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Bedanya dengan realisme, naturalisme memandang sesuatu dari sudut jeleknya saja.
Contohnya, roman atau cerpen karya Moetinggo Busye.
3. Neo-naturalisme, yaitu aliran yang tidak hanya menekankan sudaut yang jelek, tapi juga sudut yang baik.
Contoh: Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur Sutan Iskandar.
4. Ekspresionisme, yaitu aliran yang menekankan pada segenap perasaan atau jiwa.
Contoh: puisi berjudul Doa karya Chairil Anwar
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
5. Impresionisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu berdasarkan kesan-kesan sepintas saja, peristiwa atau suatu benda yang ditemui atau hal-hal yang penting saja.
Contoh: puisi berjudul Ngari Sianok karya Rifai Ali
Berat himpitan gunung Singgalang
Atas daratan di bawahnya
Hingga tengkah tak alang-alang
Ngarai lebar dengan dalangnya
Bumi runtuh-runtuh juga
Seperti beradab-adab yang lepas
Debumnya hirap dalam angkasa
Derumnya lenyap di sawah luas
Dua penduduk di dalam ngarai
Mencangkul ladang satu-satu
Menyabit di sawah bersorak-sorai
Ramai kerja sejak dulu
Bumi runtuh-runtuh jua
Mereka hidup bergiat terus
Seperti si Anok dengan rumahnya
Diam-diam mengalir terus
6. Determinisme, yaitu aliran yang melukiskan suatu kejadian atau peristiwa dari sudut jeleknya, bisa berupa ketidakadilan, penyelewengan, dan sebagainya. Sebagian karya angkatan ’66 beraliran determinisme.
Contoh: puisi berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
7. Surealisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu secara berlebihan dan terkadang sulit diikuti dan dipahami pembaca. Contohnya cerpen Lebih Hitam dari Hitam karya Iwan Simatupang, novel berjudul Behaia karya Toto Sudarto Bachtiar, dan sebagainya.
Contoh: puisi berjudul Pot karya Toto Sudarto Bachtiar.
Pot apa pot itu kaukah pot aku
Pot pot pot
Yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
Yang jawab pot pot pot kaukah pot itu
Pot pot pot
Pot apa pot itu kaukah pot aku
8. Romantisme, yaitu aliran yang melukiskan sesuatu secara sentimentil dan penuh perasaan. Prosa yang termasuk dalam aliran ini adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, Dian Tak Kunjung Padam karya S.T. Alisyahbana, dan sebagainya
Contoh: puisi berjudul Cintaku jauh di Pulau karya Chairil Anwar.
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bukan memancar
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi tersa
Aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air tenang, angin mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata
“Tujukan perahu ke pelabuhanku saja”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku
Manisku jauh di pulau
Kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri
9. Idealisme, yaitu aliran yang melukiskan hal-hal yang utuh gagasan, cita-cita, atau pendirian.
Contoh: puisi bejudul Aku karya Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorangpun kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
10. Simbolisme, yaitu aliran yang menggunakan simbol atau isyarat untuk menutupi kebenaran atau maksud sesungguhnya. Aliran ini muncul pada masa Jepang. Contohnya Drama berjudul Taufan di Atas Asia karya El Hakim.
11. Psikologisme, yaitu aliran yang menekankan pada aspek-aspek kejiwaan. Contohnya Novel berjudul Telegram karya Putu Wijaya, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan lain-lain.
12. Didaktisme, yaitu aliran yang menekankan pada aspek-aspek pendidikan. Contohnya Salah Asuhan karya Abdul Muis. Terlebih lagi pada sastra lama banyak sekali karya yang bersifat mendidik.
Senin, 07 Desember 2009
puisi baru
A.MACAM-MACAM PUISI BARU
1. DISTIKHON
Distikhon adalah sajak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
berulang aku mencari
namun dirimu telah pergi
jangan tinggalkan hari ini
karena banyak ilmu menanti
2. TERZIN
Terzin adalah sajak 3 seuntai.
Contoh :
di tepian hati bahagia datang
Tersenyum laksana permata
mewangi laksana cendana
jika cinta datang membayang
laksana hari berseri-seri
tersenyum laksana sari
3. KUATRIN
Kuatrin adalah sajak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. KUIN
Kuin adalah sajak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEKSTET
Sekstet adalah sajak 6 seuntai.
Contoh :
kapal mengembara mencari cinta
berpeluk awan di tengah samudra
laut tersenyum pada nahkoda
camar teriak pekikkan gelora
di dasar laut indah permata
nyanyikan alam mengalun sukma
(utami)
6. SEPTIM
Septim adalah sajak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. OKTAF
Oktaf adalah sajak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah puisi baru dari Itali yang umumnya tersusun atas 14 baris, dalam bebrapa bait.
Contoh:
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta legah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yanng muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke arah padang bakti
(Ali Hasjmy)
9. SAJAK BEBAS
Mulai angkatan 45 muncul sajak bebas, yaitu sajak yang tidak terikat kepada ikatan-ikatan puisi atau ikatan-ikatan pada sajak seperti lazimnya. Tidak terikat pada irama, bentuk, dan rima.
Contoh:
ISA
kepada nasrani sejati
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
kulihat tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
(Chairil Anwar)
1. DISTIKHON
Distikhon adalah sajak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
berulang aku mencari
namun dirimu telah pergi
jangan tinggalkan hari ini
karena banyak ilmu menanti
2. TERZIN
Terzin adalah sajak 3 seuntai.
Contoh :
di tepian hati bahagia datang
Tersenyum laksana permata
mewangi laksana cendana
jika cinta datang membayang
laksana hari berseri-seri
tersenyum laksana sari
3. KUATRIN
Kuatrin adalah sajak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. KUIN
Kuin adalah sajak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEKSTET
Sekstet adalah sajak 6 seuntai.
Contoh :
kapal mengembara mencari cinta
berpeluk awan di tengah samudra
laut tersenyum pada nahkoda
camar teriak pekikkan gelora
di dasar laut indah permata
nyanyikan alam mengalun sukma
(utami)
6. SEPTIM
Septim adalah sajak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. OKTAF
Oktaf adalah sajak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah puisi baru dari Itali yang umumnya tersusun atas 14 baris, dalam bebrapa bait.
Contoh:
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta legah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yanng muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke arah padang bakti
(Ali Hasjmy)
9. SAJAK BEBAS
Mulai angkatan 45 muncul sajak bebas, yaitu sajak yang tidak terikat kepada ikatan-ikatan puisi atau ikatan-ikatan pada sajak seperti lazimnya. Tidak terikat pada irama, bentuk, dan rima.
Contoh:
ISA
kepada nasrani sejati
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
kulihat tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segara
mengatup luka
aku bersuka
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
(Chairil Anwar)
Minggu, 29 November 2009
Parafrase puisi "Sia-sia" karya Chairil Anwar
Sia Sia
Oleh : Chairil Anwar
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Chairil tak ingin memberikan cintanya, mungkin itulah yang ingin diungkap puisinya yang berjudul “Sia-sia” . Tampak tak ada penyesalan dan kesedihan atas penolakan akan cinta. Puisi tersebut bercerita tentang seseorang yang datang pada sang penyair dengan membawa karangan kembang yang melambangkan sebuah tawaran cinta, "Penghabisan kali itu kau datang membawa karangan kembang". Sebuah cinta yang begitu dalam dan suci yang hanya diberikan kepada sang penyair dengan penuh harapan tertuang dalam larik puisi “Mawar merah dan melatih putih: darah dan suci”. Sebuah tawaran cinta yang tulus untuk penyair.
Sebuah cinta yang membutuhkan kepastian dari penyair , sebuah harapan agar sang penyair mau menerima tawaran cinta yang tulus “Kau tebarkan padaku, serta pandang yang memastikan:untukmu”. Chairil ternyata tak begitu saja mengatakan “ya “ untuk sebuah cinta, bahkan dia harus bertanya apakah arti semua ini? “Sudah itu kita sama termangu, saling bertanya : Apakah ini?”. Cinta? Bagaimana mungkin Chairil Anwar tak bisa memaknai arti sebuah cinta?. Itu adalah sebuah cinta yang ditawarkan padanya. “Keduanya tak mengerti” ada sesuatu yang bergelut dihati penyair dan keduanya tak bisa mengerti, bagaimana mungkin ini sebuah cinta? Ada keraguan dihati penyair, dia tak bisa menyadari kehadiran cinta di hatinya.
“Seharian bersama. Tak hampir-menghampiri” larik tersebut telah mengambarkan begitu banyak waktu yang harus dihabiskan untuk memaknai sebuah cinta. Penyair tak mengungkapkan apapun dan hanya berdiam diri satu sama yang lain. “Ah!hatiku yang tak mau memberi” sebuah keputusan yang sebenarnya sulit untuk diucapkan namun itulah Chairil, dia tak mau memberi atau membagikan cintanya kepada wanita yang telah menawarkan banyak cinta. “Mampus kau dikoyak-koyak sepi” sebuah akhir yang terasa kejam, mungkin itulah makna pada larik tersebut. Chairil lebih suka sendiri dalam kesepiannya dan menghabus dalam-dalam rasa cinta itu.
Oleh : Chairil Anwar
Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Chairil tak ingin memberikan cintanya, mungkin itulah yang ingin diungkap puisinya yang berjudul “Sia-sia” . Tampak tak ada penyesalan dan kesedihan atas penolakan akan cinta. Puisi tersebut bercerita tentang seseorang yang datang pada sang penyair dengan membawa karangan kembang yang melambangkan sebuah tawaran cinta, "Penghabisan kali itu kau datang membawa karangan kembang". Sebuah cinta yang begitu dalam dan suci yang hanya diberikan kepada sang penyair dengan penuh harapan tertuang dalam larik puisi “Mawar merah dan melatih putih: darah dan suci”. Sebuah tawaran cinta yang tulus untuk penyair.
Sebuah cinta yang membutuhkan kepastian dari penyair , sebuah harapan agar sang penyair mau menerima tawaran cinta yang tulus “Kau tebarkan padaku, serta pandang yang memastikan:untukmu”. Chairil ternyata tak begitu saja mengatakan “ya “ untuk sebuah cinta, bahkan dia harus bertanya apakah arti semua ini? “Sudah itu kita sama termangu, saling bertanya : Apakah ini?”. Cinta? Bagaimana mungkin Chairil Anwar tak bisa memaknai arti sebuah cinta?. Itu adalah sebuah cinta yang ditawarkan padanya. “Keduanya tak mengerti” ada sesuatu yang bergelut dihati penyair dan keduanya tak bisa mengerti, bagaimana mungkin ini sebuah cinta? Ada keraguan dihati penyair, dia tak bisa menyadari kehadiran cinta di hatinya.
“Seharian bersama. Tak hampir-menghampiri” larik tersebut telah mengambarkan begitu banyak waktu yang harus dihabiskan untuk memaknai sebuah cinta. Penyair tak mengungkapkan apapun dan hanya berdiam diri satu sama yang lain. “Ah!hatiku yang tak mau memberi” sebuah keputusan yang sebenarnya sulit untuk diucapkan namun itulah Chairil, dia tak mau memberi atau membagikan cintanya kepada wanita yang telah menawarkan banyak cinta. “Mampus kau dikoyak-koyak sepi” sebuah akhir yang terasa kejam, mungkin itulah makna pada larik tersebut. Chairil lebih suka sendiri dalam kesepiannya dan menghabus dalam-dalam rasa cinta itu.
Minggu, 22 November 2009
BIARLAH BERLALU
Kegetiran masa lalu? haruskah kita mengingatnya? Kemudian bersedih dan meratapi kegagalan itu? Sungguh hal yang bodoh jika itu yang dilakukan. Itu sama halnya dengan membunuh semangat dan memupuskan harapan bahkan seperti mengubur masa depan yang belum pasti.
Bagi orang yang mau berpikir realistis, masa lalu bagaikan kertas yang harus dilipat dan tak pernah di buka lagi. Cukuplah di taruh pada bagian otak yang disediakan untuk ruang penglupaan, disimpan rapat-rapat dan tak perlu diungkit-ungkit lagi. Mengapa harus demikian? Karena masa lalu itu telah habis dan telah berlalu.
Jangan pernah dihantui oleh mimpi buruk masa lalu atau pengalaman pahit yang pernah terjadi . Ingatlah , keresahan dan kesedihan yang disebabkan masa lalu merupakan sesuatu yang naif dan mengerikan. Mengapa? Karena mengingat masa lalu hanya akan mematahkan masa depan dan menyia-nyiakan hari ini yang sangat berharga. Jangan terkurung oleh pedihnya masa lalu , Anda tidak akan bisa mengubah kejadian masa lalu yang telah terjadi. Jadi jangan pernah terbelenggu akan mimpi buruk yang telah usai.
Masa lalu hanya membuat kita meneteskan air mata dan membuat hati kita lemah. Berpikirlah positif dan bijak. Jangan lagi menengok ke belakang. Air akan terus mengalir, hari akan terus berganti dan nikmatilah hidup ini dengan senyum yang terindah. Jangan pernah lagi teteskan air mata untuk sesuatu yang bernama masa lalu. Hiduplah untuk hari ini dan hari esok. Yakinlah bahwa hari esok adalah surga terindah kita maka ucapkan selamat tinggal mimpi buruk. Anda harus tersenyum sekarang juga!
puisi tentang aku dan kerjaku
Sang Juara
Berbaris di tengah kawan
Aku pilih yang paling depan
Karena di depan letak sang juara
Aku tak suka menutup barisan
Karena tempat sang pecundang
Berdiri kokoh
Tak kenal lelah
Bersama pelita harapan bangsa
Tugas kuemban tak kenal putus
Tata terbaik tinggalkan salah
Karena diriku harus juara
Meski kawan duduk bersandar
Aku lari menjemput waktu
Bersama pelita pembangun bangsa
Ayo kejar mentari pagi
Dengan penuh semangat baja
Buka buku tuliskan dunia
Bersamaku sang juara
Pecundang
Lempar saja kata tak berguna
Simpan saja dalam kaos kaki basi
Tempat sepatu beralas debu
Tancapkan makna hidup
Di balik kalbu
Tanam diantara lorong nadi
Agar pecundang berhenti
Pecundang tak pernah berani
Memakai logika dan hati nurani
Pecundang hanya bisa berkata bohong
Tanpa berani menunjukan prestasi
Sobek saja kamus pecundang
Jangan tulis di kertas putih
Hapus saja dengan penghapus yang paling mahal
Biar pecundang tak merasuk hati
Jangan Bimbang
Kugeluti rumus bermakna
Kucari solusi pecahkan kalimat
Esok menanti pelita bangsa
Waktu tak pernah berhenti
Kala jawaban belum pasti
Jangan kuatir nak , hadapi terus
Pasti kalimat ada jawabnya
Jangan ragu melangkah bersamaku
Karena buku temanku bercanda
Ku buka lembar yang berarti
Lantas ku tulis di awal sendiri
Begini rumus selesaikan tanya
Jangan bimbang nak, bersamaku
Mari bersama buka jendela ilmu
Agar esok penuh pasti
Menyambut hari yang terus berlari...
Laksana bayu
Kutantang awan yang berarak
Melaju di baris terdepan
Aku tak peduli
Kututup negatif penghambat langkah
Dan...ku biarkan
Kaki menuju istana siswa
Yang menanti pikir dan logika
Menyapa siswa dengan pasti
Menyambut bayu dengan obsesi
UAN
Wajah – wajah yang riang
Berganti tegang
Kala sang UAN menyapa
Duh gusti tak tega bunda menatap nanda
UAN bagaikan petir hentikan canda
Wahai nanda
Pelita bangsa
Tatap saja sang UAN
Jangan menunduk di tengah gelisah
Pakai saja rumus yang ku beri
Lumat saja UAN dengan logika
Karena UAN hanya untuk dipikir
Jangan pergi sebelum usai
Tulis indah di lembar jawab
Tebar senyum sambil di pikir
Jangan lantas bermuram muka
Nurani di antara kerja
Aku duduk di tengah gelisah
Ketika asa tak mampu terucap
Gemetar bibir menolak waktu
Tapi tak sanggup taklukkan
Perintah...
Aku malu lagi sekarang
Melihat awan mentertawakan diri
Bah .. engkau bangsat
Menggosok nurani disela kerja..
Bah kamu licik
Hanya mampu bersilat kata
Tunjukkan langkahmu
Di gelanggang prestasi
Jika memang sang pemberani
Jangan tatap
Jika tak mau
Jangan mencibir
Jika tak bisa
Engkau sang surya
Tapi tak lagi bersinar
Meminjak langkah
Tapi tak pasti
Usap saja keringatmu
Dengan malas takpernah usai...
Jangan tunjuk aku lagi...
Jika memang kamu tak mampu.
Berbaris di tengah kawan
Aku pilih yang paling depan
Karena di depan letak sang juara
Aku tak suka menutup barisan
Karena tempat sang pecundang
Berdiri kokoh
Tak kenal lelah
Bersama pelita harapan bangsa
Tugas kuemban tak kenal putus
Tata terbaik tinggalkan salah
Karena diriku harus juara
Meski kawan duduk bersandar
Aku lari menjemput waktu
Bersama pelita pembangun bangsa
Ayo kejar mentari pagi
Dengan penuh semangat baja
Buka buku tuliskan dunia
Bersamaku sang juara
Pecundang
Lempar saja kata tak berguna
Simpan saja dalam kaos kaki basi
Tempat sepatu beralas debu
Tancapkan makna hidup
Di balik kalbu
Tanam diantara lorong nadi
Agar pecundang berhenti
Pecundang tak pernah berani
Memakai logika dan hati nurani
Pecundang hanya bisa berkata bohong
Tanpa berani menunjukan prestasi
Sobek saja kamus pecundang
Jangan tulis di kertas putih
Hapus saja dengan penghapus yang paling mahal
Biar pecundang tak merasuk hati
Jangan Bimbang
Kugeluti rumus bermakna
Kucari solusi pecahkan kalimat
Esok menanti pelita bangsa
Waktu tak pernah berhenti
Kala jawaban belum pasti
Jangan kuatir nak , hadapi terus
Pasti kalimat ada jawabnya
Jangan ragu melangkah bersamaku
Karena buku temanku bercanda
Ku buka lembar yang berarti
Lantas ku tulis di awal sendiri
Begini rumus selesaikan tanya
Jangan bimbang nak, bersamaku
Mari bersama buka jendela ilmu
Agar esok penuh pasti
Menyambut hari yang terus berlari...
Laksana bayu
Kutantang awan yang berarak
Melaju di baris terdepan
Aku tak peduli
Kututup negatif penghambat langkah
Dan...ku biarkan
Kaki menuju istana siswa
Yang menanti pikir dan logika
Menyapa siswa dengan pasti
Menyambut bayu dengan obsesi
UAN
Wajah – wajah yang riang
Berganti tegang
Kala sang UAN menyapa
Duh gusti tak tega bunda menatap nanda
UAN bagaikan petir hentikan canda
Wahai nanda
Pelita bangsa
Tatap saja sang UAN
Jangan menunduk di tengah gelisah
Pakai saja rumus yang ku beri
Lumat saja UAN dengan logika
Karena UAN hanya untuk dipikir
Jangan pergi sebelum usai
Tulis indah di lembar jawab
Tebar senyum sambil di pikir
Jangan lantas bermuram muka
Nurani di antara kerja
Aku duduk di tengah gelisah
Ketika asa tak mampu terucap
Gemetar bibir menolak waktu
Tapi tak sanggup taklukkan
Perintah...
Aku malu lagi sekarang
Melihat awan mentertawakan diri
Bah .. engkau bangsat
Menggosok nurani disela kerja..
Bah kamu licik
Hanya mampu bersilat kata
Tunjukkan langkahmu
Di gelanggang prestasi
Jika memang sang pemberani
Jangan tatap
Jika tak mau
Jangan mencibir
Jika tak bisa
Engkau sang surya
Tapi tak lagi bersinar
Meminjak langkah
Tapi tak pasti
Usap saja keringatmu
Dengan malas takpernah usai...
Jangan tunjuk aku lagi...
Jika memang kamu tak mampu.
Langganan:
Postingan (Atom)