Kamis, 04 Maret 2010

MACAM-MACAM MAJAS

1. Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Misalnya:
Ini muka penuh luka punya siapa.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

2. Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bunga dan panji berkibar.

3. Apofasis atau preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tapi tampaknya menyangkal. Pura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tapi sebenarnya menekankan hal itu. Pura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tapi sebenarnya memamerkannya. Misalnya:
Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa Anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri.
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupia uang negara.

4. Apostrof adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tdak hadir, kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau objek khayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tidak berbicara kepada para hadirin.
Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta ini berilah agar kami dapat mengeyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.

5. Asindeton adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Biasanya dipisahkan dengan koma.
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitn, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

6. Alegori, parabel, dan fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung makna kiasan. Makna kiasan harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Pelakunya berupa sifat ang abstrak dan tujuannya selalu jelas tersurat.
Parabel adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokohbiasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. Biasanya berupa ceruta fiktif dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual.
Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita binatang yang bertindak seolah-olah manusia. Ceritanya bertujuan menyampaikan ajaran moral.

7. Alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Hal yang diperhatikan dalam alusi adalah harus ada keyakinan bahwa hal yang dijadikan alusi dikenal pembaca, penulis yakin bahwa alusi membuat tulisannya menjadi lebih jelas, dan bila alusi menggunakan acuan yang sudah umum, maka harus dihindari. Misalnya sering dikatakan dulu Bandung adalah Paris Jawa, kartini kecil turut memperjuangkan haknya.

8. Antonomasia adalah bentuk sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk nenggantikan nama diri.
Yang mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu.

9. Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata yang mekna kebalikannya, yang biasa dianggap ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan roh jahat, dam sebagainya.
Engkau memang orang yang mulia dan terhormat.

10. Anadilopsis adalah gaya bahasa ayang selalu menjadikan kata terakhir atau frasa terakhir dalam suatu kalimat atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.
Dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiaranya, dalam tiram, ah tidak ada apa-apa.

11. Asosiasi adalah suatu gaya bahasa perbandingan dengan memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Wajahnya pucat pasi bagaikan bulan kesiangan.

12. Antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan atau maksud yang bertentangan dengan cara menggunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
Kaya-miskin, tua-muda, suami-istri semuanya berkumpul di lapangan mendengarkan pidato pak Harto.

13. Apofasis atau preterisio adalah gaya bahasa yang digunakan seseoang untuk menegaskan sesuatu, namun tampaknya menyangkal.
Kalau bukan karena terlampau banyak hutang budiku padanya sudah kubeberkan segala keburukannya di dalam rapat kita tadi.

14. Antiklimaks adalah gaya bahasa yang mengurutkan gagasan dari hal yang terpenting hingga hal yang tidak begitu penting.
Di tingkat satu, semangat belajarnya luar biasa. Hampir tidak ada waktu dan kesempatan luangnya tanpa diisi membaca buku dan belajar. Namun, mulai tingkat lima, kerjanya hanya tidur melulu.

15. Antisipasi adalah suatu gaya bahasa propelis, yaitu gahya bahasa yang selalu mendahulukan keterangan atau penjelasan tentang kejadian yang sebenarnya belum terjadi.
Contoh:
Pada hari naas itu, dia mengenakan kemeja warna merah.

16. Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Contoh:
Takut titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
Keras hati, keras kepala, sekaligus keras adat
Pandai, pintar, tapi penipu

17. Anafora adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan kata pertama dari kalimat pertama menjadi kata pertama dalam kalimat berikutnya. Contoh:
Sumpah Pemuda pada tahun 1928 merupakan awal kebangkitan persatuan dan kesatuan bangsa. Sumaph Pemuda pada tahun 1928 itu benar-benar suatu momen sejarah bangsa kita yang harus selalu dan wajib kita kenang dan ambil hikmah serta harus kita jadikan sebagai dasar semangat pembangunan bangsa sampai kapanpun.

18. Antanaklasis adalah majas yang menunjukkan pengulangan kata yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda.
Engkau dijual engkau dibaca

19. Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.
Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tidak apa-apa, badanmu sehat, tetapi psikis....

Bila bagian yang dihilangkan berada di tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya:
Jika Anda gagal melaksanakantugasmu ... tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu.

Bila pemutusan di tengah kalimat bermaksud untuk menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena suatu emosi yang kuat, maka disebut aposiopesis.

20. Eufimisme adalah semacam acuam berupa ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang yang dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka. (mati)

21. Erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan mecapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin.
Rakyatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di negara ini?

22. Eponim adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya, Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan, Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.

23. Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Misalnya:
Putri bulan untuk bulan
Raja rimba untuk singa
Lonceng pagi untuk ayam jantan

Epanalipsis adalah suatu gaya bahasa perulangan atau repetisis perulangan kata terakhir pada akhir kalimat atau klausa.
Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.

24. Epizeukis adalah gaya bahasa repetisi yang bersifat langsung dan kata-kata yang dipentingkan diulang beberapa kali sebagai penegasan.
Hanya dengan kerja keras, kerja keras, dan kerja keras, negara kita akan makmur.

25. Epifora adalah gaya bahasa paralelisme yang menempatkan kata atau kelompok kata yang sama pada akhir larik dalam puisi secara berluang-ulang.
Contoh:
Kalau kau mau, aku akan datang
Kalaukau kehendaki, aku akan datang

26. Fabel adalah gaya bahasa yang digunakan pengarang dengan menggunakan alam hewan sebagai pelakunya.
Contoh:
Kancil yang cerdik itu berhasil menipu buaya.

27. Histeron prosteron atau hiperbaton adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa.
Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang menariknya.
Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.

28. Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu peryataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Kemarahaku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku.

29. Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya digunakan pada sebuah kata yang lain. Atau dapat dikatakan hipalase adalah kebalikan dari relasi alamiah dua komponen gagasan.
Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah. (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).

30. Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung da sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu.
Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.
Ia menjadi kaya raya karena sedikit mengadakan komersialisasi jabatannya.

31. Ironi, sinisme, dan sarkasme
Ironi
merupakan suatu upaya literer yang efektif karena menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Rangkaian kata yang digunakan mengingkari maksud sebenarnya.
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat.

Sinisme adalah sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap ketulusan dan keikhlasan hati.
Memang Anda adalah gadis yang tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini.

Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih keras daripada ironi dan sinisme. Sarkasme mengandung kepahitan dan celaan yang getir.
Lihat sang raksasa itu (maksudnya si cebol)
Kelakuanmu memuakkan saya
Mulut kau harimau kau

32. Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula0mula menegaskan sesuatu, tapi kemudian memperbaikinya.
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu , ah bukan, sudah lima kali.

33. Kiasmus adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekuan kami untuk melanjutkan usaha itu.

34. Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri.
Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.

35. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tapi dalam bentuk yang singkat. Tidak menggunakan kata seperti, bagai, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan denga pokok kedua. Proses terjadinya sama dengan simile tapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan. Metafora dapat menduduki semua fungsi (subjek, predikat, dll.)
Orang itu seperti buaya darat  Orang itu adalah buaya darat. Orang itu  buaya darat
Perahu itu menggergaji ombak.

36. Mesodiplosis adalah gaya bahasa bentuk repetisi yang selalu menggunakan pengulangan di tengah-tengah baris atau kalimat secara berurutan.
Contoh:
Kita rakyat yang bisu
Kita rakyat yang tidak punya kata
Kata rakyat bukan kata rakyat lagi maknanya
Tanpa rakyat bangsa tak ada
Maka berilah rakyat kata biar tidak bisu

37. Melosis adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang merendah dengan tujuan menekankan atau mementingkan hal yang dimaksud agar lebih mengesankan dan bersifat ironis.
Contoh:
Tampaknya kantor kecamatan tersebut membutuhkan orang sepandai saudara. (maksudanya dia dimutasi ke kantor kecamatan)

38. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena meiliki pertalian yang sangat dekat. Metonimia merupakan suatu bentuk sinekdoke.
Saya minum satu gelas, ia dua gelas
Ia telah memeras keringat habis-habisan

39. Okupasi adalah gaya bahasa pertentangan yang mengandung bantahan, namun disertai penjelasan.
Contoh:
Kedengarannya memang aneh, masa dia selalu merasa sepi hidup di tengah-tengah kota metropolitan Jakarta.

40. Oksimoron adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih tajam dan padat dari paradoks.
Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil.

41. Onomatope, adalah bunyi-bunyi yang tidak ada artinya yang dituliskan. Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suara manusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.
Suara hewan: menggonggong, mendesis, mengeong dsb.
Suara lain: tercebur
Suara manusia: ha-ha-ha

42. Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata sambung.
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tek tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulunya.



43. Pleonasme dan tautologi
Pada dasarnya kedua gaya tersebut adalah acuan yang mempergunakan kata-kata yang lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan suatu pemikiran atau gagasan. Disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan namun artinya tetap utuh. Sebaliknya, bila kata yang berlebihan itu mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain disebut tautologi.
Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri.

Ungkapan ersebut merupakan pleonasme karena meskipun klausa dengan telinga saya sendiri dihilangkan, maknanya tetap.
Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat.

Acuan tersebut disebut tautologi karena kata yang berlebihan itu mengulang kembali gagasan yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu malam sudah tercakup dalam jam 20.00.

44. Perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme. Perbedaannya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berkelebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja.
Ia telah beristirahat dengan tenang. (mati, atau meninggal)

45. Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gay bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.misalnya dalam mendeskripsikan peristiwa kecelakaan pesawat terbang, sebelum sampai kepada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Padahal kesialan baru terjadi kemudian.
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.


46. Paralelisme adalah majas yang mengulang kata di setiap baris yang sama dalam satu bait.
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi.

47. Parabel adalah gaya bahasa yang berjudul cerita-cerita singkat, berisikan ajaran-ajaran pendidikan atau agama yang biasanya terdapat dalam kitab suci.
Contoh:
Cerita Abunawas

48. Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit atau langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain.
Bibirnya seperti delima merekah.
Matanya seperti bintang timur.
Bagai air di daun talas.

Persamaan dibedakan atas persamaan tertutup dan persamaan terbuka. Persamaan tertutup adalah persamaan yang mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu, sedangkan persamaan terbuka adalah persamaan yang tidak mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu. Pembaca atau pendengar diharapkan akan mengisi sendiri sifat persamaannya.
Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa tegang seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalm set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. (tertutup)
Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalm set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. (terbuka)

49. Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan bena-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba di sana.

50. Pun atau paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi.
Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
“Engkau memang kaya!” “Ya, kaya monyet!”

51. Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada atau dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.
Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.

52. Repetisi adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi suku kataatau kalimat yang dianggap penting untuk memberi penegasan atau tekanan.
Contoh:
Sekali tidak, ya tidak. Titik!

53. Silepsis dan zeugma adalah gaya di mana orang mepergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tapi secara semantik salah.
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

Konstruksi yang benar adalah kehilangan topi dan kehilangan semangat, yang satu bermakna denotasi, sedang yang lain bermakna kias
Dalam zeugma, kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya, baik secara logis maupun gramatikal.
Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.

54. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian untuk dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totem pro parte).
Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar RP 1000,-
Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3 – 4.

55. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Tidak perlu bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuannya adalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis.

56. Simploke adalah gaya bahasa repetisi berbentuk pengulangan kata pada awal dan akhir dari berbagai baris kata atau kalimat secara berurutan.
Contoh:
Kamu bilang hidup ini brengsek, aku bilang biarin
Kamu bilang hidup ini tak berarti, aku bilang biarin
Kamu bilang aku tidak berkepribadian, aku bilang biarin
Kamu bilang aku tidak punya pengertian, aku bilang biarin